Rindu Nan Amerta

Mendekatlah padaku
Rebahlah dalam haribaan lelaki usang ini
‘Kan ku hikayatkan tentang sesuatu nan amerta
Lestari oleh desir-desir

Ikutlah denganku Drupadi …
Melayang tembus ke asmaraloka
Menuai serpih-serpih imaji
Yang berjatuhan dari purnama jingga

Oh Rindu ….

Tahukah kau duhai kekasih?
Lelaki ini belumlah paripurna
Namun rinduku tak berselisih
Tiada lekang digerus masa

Rinduku … oh Drupadiku

Marilah kekasih megahku …
Berpautan jemari, kita daki puncak rindu
Titik paripurna nan membiru haru
Dalam doa … tanpa warta … tiada ragu

Aku nirguna tanpa hadirmu
Aku rapuh tanpa rindumu
Aku ringkih tanpa kasihmu
Aku retak tanpa belaimu

Oh cintaku …

Pemilik semesta birunya rinduMelekaplah padaku wahai Drupadi
Peluklah aku dengan senyummu

Mari berbincang tentang rindu …

Nan amerta dalam asmaraloka.

Iklan

Dilema

Saat surga telah dia punya
Lalu harus apa kutawarkan padanya?
Cuma bilik reot ini yang tersisa

Ketika bertahta dia dalam istana
Bak Prameswari raja semesta
Lalu … patutkah budak ini mendamba?

Jika sang pagi selalu menuntunnya
Sang rembulan pun sudah memberi teduh
Cukup pantaskah puisi kutuliskan buatnya?

Ah … tapi bukankah rasa tak pernah dusta?

Kabar Pada Drupadi

Rembulan tak berkawan
Aku pun begitu
Dalam kungkung rindu nan membiru

Ada desir terasa
Di sini … di dada ini

Kuhadang semilir tatih sang bayu
Kuajak berbincang tentang rindu
Ya … rinduku padamu
Kau tahu? dia mengejekku.

Ahhhh … bila saja kau tahu
Bila saja kau mau
Namun, aku bukanlah pemilik sejatimu.

Drupadi

Bila …
Bila cintamu begitu megah
Bolehkah ku kecap meski sekerat?

Bila …
Embus napas wangimu boleh kupinjam
‘Kan kusulam tuk cadari rindu.

Rindu bisu
Sebisu arca-arca di kuil asmara
Selayak bayu, selalu riuh berderu

Oh … Drupadi

Engkaulah lambang wanita paripurna
Bersanggul purnama jingga
Selayak Hapsari nan mempesona

Bila …
Bila kasihmu seluas samudera
Rela karam aku hingga dasarnya

Oh … Drupadi

Dikaulah mawar di taman nirwana
Wangimu melibas aroma kenanga
Menelusup jauh ke relung-relung jiwa

Bila …
Bila bias netramu seindah senja
Biar saja kutersesat selamanya.

Kotaku dan Fenomenanya

Ada yang lebih ngehek dari ditolak?

Cinta ditolak dukun bertindak!

Pepatah lama yang cukup populer zaman awal beger dulu. Iya kalau cinta, lah ini naskah artikel untuk kesekian kali ditolak, lagi. Mungkin pepatahnya harus di ubah jadi ;

Naskah ditolak hacker bertindak!

Tapi sayang aku bukan hacker dan sialnya ga punya kenalan hacker, ngehek kuadrat.

Mas Koko yang baik….

Sebelumnya, kami ucapkan terima kasih atas kesediaannya mengirimkan naskah ke Mojok. Artikel Anda sudah kami terima dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kami mohon maaf, artikel Anda belum bisa kami muat….

Namun begitu, kami sangat berterima kasih atas kesediaan Anda mengirimkan tulisan untuk Mojok. Dan kami tunggu naskah-naskah Anda lainnya. Terima kasih 🙂

Sengaja balasan imel dari redaksi mojok tak posting sekalian hikz 😭😭😭.

Dan inilah naskah receh bernasib malang yang tak ceritakan di awal tadi, sedikit tak edit sih 😁.

SETIAP KOTA PUNYA CERITA

Kali ini cerita tentang kota yang bernama Bula tanpa huruf n, saat ini jadi Ibukota kabupaten Seram Bagian Timur. Kalau ingin tahu lebih jelas silakan googling.

Kota kecil dipesisir Pulau Seram yang sepertinya ga lebih besar dari kota kelahiranku, Purworejo, di Pulau Jawa sana, ya … aku memang cuma pendatang karena dulunya anak transmigran.

Tentang status sebagai anak transmigran dan segala uneg-unegnya insha Allah tak tulis di lain waktu dan lain artikel.

Pertama kali datang dan menetap dikota ini direntang tahun 1993-1995,tahun dimana ksatria baja hitam dan power rangers masih jadi idola bocah sd, kalau kids zaman now entahlah idolanya apa atau siapa.

Dulu, Bula itu katanya akronim dari Banyak Uang Lupa Agama, entah siapa yang pertama kali bikin akronim itu, mungkin cuma loki, ketang kenari, dan bia papacu saja yang masih ingat hahaha.

Rentang kedua menetap mulai tahun 2005-2016, setelah itu aku nglaju dari pmtsi ke Bula 6 hari dalam seminggu.

Nah direntang waktu kedua inilah aku baru tahu ada semacam fenomena aneh tapi nyata dikota ini, mengenai hidup dan mati.

Fenomena yang sedikit ga masuk akal tapi ya memang itu yang terjadi, di sini setiap ada pesta berturut-turut pasti akan ada orang meninggal berturut-turut pula.

Disini kalau ada hajatan entah itu mantenan, aqikah (bener ga nulisnya ini?), potong titit, atau apa sajalah pasti akan ada sesi pesta, cuma orang meninggal saja yang ga dipestain.

Pesta, ya joget-joget (kalau mau lebih sopan menari) diiringi musik/lagu, mirip dugem,sudah mejadi semacam ‘kebiasaaan’ kota ini.

Dan joget-joget di dalam sabua alias tenda biru (kadang ga biru ) ini punya nama lain semisal kadayo, kewa, atau kalau mau yang lebih ngIndonesia, melantai.

Jilbabers juga banyak yang ikutan pesta kok, maklum disini bukan Aceh yang menjalankan syariat Islam jadi itu hal yang biasa. Ga bakalan kok kena cambuk di alun-alun kota.

Yang masih menjadi misteri (terutama buatku ) itu kenapa fenomena pesta berturut-turut diekori oleh orang meninggal yang berturut-turut pula.

Mungkin ini cara kota Bula untuk menyeimbangkan mortalitas dan natalitas, supaya kota ga makin sesak.

Soalnya kalau mantenan kan ujung-ujungnya bayi juga, jadi untuk memberi ruang buat bayi-bayi yang akan lahir harus ada yang pulang lebih dulu.

Dan andai saja aku ini jadi Bupati atau anggota DPRD, pasti akan usulkan dibentuknya TGPF kalau ga ya nyewa si Conan Edogawa atau Sherlock Holmes, tapi semua itu bohong woooo woooo wo wooo,dan ga mungkin terjadi soalnya beta mah apa atuh? cuma pendatang.

Sebuah Episode Khayal (Gadis Imajinasi)

—Sebaris Nama—

Semua terawali imaji, abjad-abjad rangkai sebuah nama, terasa asing, dan hambar yang terkecap.

Imaji penuhi mimpi. Seolah sosok begitu ternilai. Meski hati, resah dan khayal tersua paras bergambar angkuh.

Seakan takdir menggaris hati. Ataukah mimpi menemui pasti?Aahhh … nama itu kudapati.

Bersisi beda sewajar insan. S’makin menggenal tercumbu resah. Tak’kala kehabisan waktu, sedetik, bersama sebaris nama.

—Gila?—

Sekilas sua. Sebias tatap. Terdamba nama. Ingin meraja, sekedar sentuhi rasa.

Berulang menatap, tertatap. Tercumbu hal gila, ataukah sewajarnya? Terdalam hati belum terselami. Seraut maya membebani.

Kegilaan ini ejawantahkan rasa.Resah menggila bercadar puja. Gila ataukah cinta? Terdalam nurani tak pernah mengerti.

—Untuk Sebuah Nama—

Bilamana hampa merasuki. Pangeran sepi bertahta. Cinta menghamba pada hasrat. Memohon asa, pun meski sekerat.

Lambai tirai tercumbu desau. Mengusik sisi angkuh rasa. Koridor panjang hiasi hati. Berujung celah redup emosi.

Sebatang suluh redup, hilang arti pada sebentuk cinta. Mencoba sanjungkan pinta. Perkenankan terangi kelam.

Sepotong setia berharap, berilah penggalan waktu. Mencari indah dalam anggkuh. Warnai bianglala dalam hitam.

—Sepotong Aku mu—

Bumi tetaplah bundar. Masih setia berputar. Dan sang sunggai? … ya … masih menggalir. Walau tak sederas dulu.

Mencari … masih. Tempat bertaut, endapkan serpih lumpur, membentuk delta.

Antara naif dan kejujuran. Perasaan ataukah ketakwarasan? Pelarian ataukah persinggahan? Mungkinkah penghujung perjalanan?

Untukmu perempuan, terluruhkan kerajaan bimbang. Terakui secercah khayal.

Tentang … Semua yang terawali imaji, dan abjad-abjad yang pernah termimpi. Nukilan nisan, sepotong aku mu.

—Pengakuan Pecinta—

Masih kubelai langkah. Tertatih pun berulang tersuruk. Dan sepertinya “aku gemetar.”

Perih … Sayat luka tersiram peluh meluruh. Pun darah tak lagi menetes. Masih sembab paras. Saat isak, tak lagi terlantun.

Aku merasa “pecinta termalang.”

Namun ternyata patut aku bersyukur. Aku bukanlah satu-satunya. Dan tak sendiri meski kesepian.

Di sana … di simpang jalan, sebentuk jasad tergolek. Penuh luka, lebam terbantai cinta.

Tapi, sekali lagi “aku kalah.”

—Satu Jawab—

Bukan seperti ini. Tidak sepagi ini.

Kataku belum terucap. Lidah belum lagi menari. Pinta pun belum kusanjungkan.

Aku yakin aku tak buta. Mungkin hanya bodoh. Tuli? ah … bukan. Meski lirih senandung itu ku dengar.

Terlalu pagi sahabat. Terlalu dini, dan terlampau cepat.

Dan kuharap itu salah. Karena, “aku benci kalah! Walau itu harus.

ditulis ulang 21-05-2018.