Sebuah Episode Khayal (Gadis Imajinasi)

—Sebaris Nama—

Semua terawali imaji, abjad-abjad rangkai sebuah nama, terasa asing, dan hambar yang terkecap.

Imaji penuhi mimpi. Seolah sosok begitu ternilai. Meski hati, resah dan khayal tersua paras bergambar angkuh.

Seakan takdir menggaris hati. Ataukah mimpi menemui pasti?Aahhh … nama itu kudapati.

Bersisi beda sewajar insan. S’makin menggenal tercumbu resah. Tak’kala kehabisan waktu, sedetik, bersama sebaris nama.

—Gila?—

Sekilas sua. Sebias tatap. Terdamba nama. Ingin meraja, sekedar sentuhi rasa.

Berulang menatap, tertatap. Tercumbu hal gila, ataukah sewajarnya? Terdalam hati belum terselami. Seraut maya membebani.

Kegilaan ini ejawantahkan rasa.Resah menggila bercadar puja. Gila ataukah cinta? Terdalam nurani tak pernah mengerti.

—Untuk Sebuah Nama—

Bilamana hampa merasuki. Pangeran sepi bertahta. Cinta menghamba pada hasrat. Memohon asa, pun meski sekerat.

Lambai tirai tercumbu desau. Mengusik sisi angkuh rasa. Koridor panjang hiasi hati. Berujung celah redup emosi.

Sebatang suluh redup, hilang arti pada sebentuk cinta. Mencoba sanjungkan pinta. Perkenankan terangi kelam.

Sepotong setia berharap, berilah penggalan waktu. Mencari indah dalam anggkuh. Warnai bianglala dalam hitam.

—Sepotong Aku mu—

Bumi tetaplah bundar. Masih setia berputar. Dan sang sunggai? … ya … masih menggalir. Walau tak sederas dulu.

Mencari … masih. Tempat bertaut, endapkan serpih lumpur, membentuk delta.

Antara naif dan kejujuran. Perasaan ataukah ketakwarasan? Pelarian ataukah persinggahan? Mungkinkah penghujung perjalanan?

Untukmu perempuan, terluruhkan kerajaan bimbang. Terakui secercah khayal.

Tentang … Semua yang terawali imaji, dan abjad-abjad yang pernah termimpi. Nukilan nisan, sepotong aku mu.

—Pengakuan Pecinta—

Masih kubelai langkah. Tertatih pun berulang tersuruk. Dan sepertinya “aku gemetar.”

Perih … Sayat luka tersiram peluh meluruh. Pun darah tak lagi menetes. Masih sembab paras. Saat isak, tak lagi terlantun.

Aku merasa “pecinta termalang.”

Namun ternyata patut aku bersyukur. Aku bukanlah satu-satunya. Dan tak sendiri meski kesepian.

Di sana … di simpang jalan, sebentuk jasad tergolek. Penuh luka, lebam terbantai cinta.

Tapi, sekali lagi “aku kalah.”

—Satu Jawab—

Bukan seperti ini. Tidak sepagi ini.

Kataku belum terucap. Lidah belum lagi menari. Pinta pun belum kusanjungkan.

Aku yakin aku tak buta. Mungkin hanya bodoh. Tuli? ah … bukan. Meski lirih senandung itu ku dengar.

Terlalu pagi sahabat. Terlalu dini, dan terlampau cepat.

Dan kuharap itu salah. Karena, “aku benci kalah! Walau itu harus.

ditulis ulang 21-05-2018.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s