Pagi

Ini pagiku
mana pagimu?

Pagiku berkawan seduhan teh
tanpa pemanis selain senyummnya

Pagiku lengang tanpa tikai
cuma kedipan mata, berdua

Begini pagiku
lalu, kamu?

210719

Iklan

Emprit

Dia terbahak-bahak kencang sekali, lantas bicara sehabis mencebik sinis, “Kau cemburu, Juna.”

Cemburu? Ada-ada saja bocah tengik itu, huuh!

“Ayolah, mengaku saja. Tak usah malu, buang gengsimu jauh-jauh, Cuy!”

Aku cuma bisa mendengus. Sebagian diri tak menyangkal, sebagian lagi tak mengiyakan. Dia–si sok tahu–masih duduk di pojok sana, menowel-nowel hidungnya sendiri. Sesekali dia menggumam, sesekali menembang, dan sesekali berpuisi.

Sayapku tanggal dipanah pujangga. Diksiku mati diracun puisi. Aku adalah picisan. Kata-kataku tak lebih dari onani di ujung pagi.”

Dia memang selalu begitu bila tengah mengejekku. Sepertinya memang ada kenikmatan serupa orgasme dahsyat yang didapat saat melakukan itu. Dan aku, hanya bisa menutup kuping rapat-rapat. Berharap suara bernada satirenya tak tembus sampai gendang telingga. Tapi itu gagal, kalimat-demi kalimat yang dimuntahkan si sok tahu lolos dari hadangan jari-jariku, masuk tanpa permisi lalu getarkan selaput tipis dalam rongga yang telah mati-matian kusumpal, kemudian meresap sampai hati.

Hatiku makin panas. Aliran darah pun terasa kian deras, degup jantung seperti mengetuk-etuk dada. Otakku juga makin dijejali ribuan bahkan jutaan asumsi, berputar-butar serupa kawanan lebah, dengungnya bikin sakit kepala.

Saat semua menjadi makin menyiksa–celotehan si sok tahu, asumsi yang menjejal serta dengung menyebalkan itu–tiba-tiba Dru datang dalam bentuk kenangan, menuntunku ramah ke tempo lalu.

***

“Aku suka puisimu,” katanya dengan wajah dan mata berbinar.

“Benarkah?”

Dia tersenyum, manis sekali, menyelipkan rambut ke telinga lantas menyahut, “Ya, puisimu terasa lahir dari hati, Jun.”

Yang kurasakan, melayang. Membumbung tinggi laiknya rajawali di angkasa luas. Melesat secepat kilat, membelah udara dengan kepakan-kepakan sayap maha sempurna. Sungguh, hari ini menjadi sedemikian indah. Bahkan terik mentari pun terasa hangat membungkus.

“Buatkan aku prosa, Jun.” Kalimat yang melompat dari bibir tipis namun ranum itu seketika menjadikanku manusia lagi. Kutatap wajahnya lurus tanpa berkedip, mencoba mencari kesungguhan di mata paling indah yang pernah ada. Dan, dia pun kembali tersenyum, pamerkan sederet gigi seputih pualam.

“Prosa seperti apa yang kau mau, Dru?”

“Yang kau tulis pakai hati, segenap jiwa, seluruh rasa,” jawabnya sambil menguncir rambut, “aku tunggu, ya,” sambungnya lagi.

“Tapi, aku hanya penulis picisan, Dru.” Aku tidak berniat merendah sama sekali, nyatanya memang seperti itu.

“Picisan atau tidak, itu hanya masalah persepsi pembacanya saja. Bukankah orang lain yang bisa menilai?”

“Lantas?”

Ya, buatku tulisan-tulisanmu bukan karya picisan, Jun.”

Ah, kau hanya menghiburku, kan, Dru?”

Tentu saja tidak! Aku objektif.”

“Tidak, kau subjektif.”

Jika iya, kenapa?”

“Artinya kau hanya menghiburku.”

“Intinya aku suka puisi dan prosamu, buatkanlah lagi untukku, ya.”
Dru memberi penekanan pada kata terakhirnya. Disertai senyuman juga kedipan yang kuartikan sebagai permohonan paling tulus seorang gadis. Gadis pertama yang memuji puisi dan prosaku. Gadis yang sukses menjungkalkan akal sehat pun menebas ketidakpercayaan diriku. Objektif atau subjektif penilaiannya sudah tak penting lagi. Persetan apa kata dunia!

“Hei, bocah! Kenapa kau senyum-senyum?”

Byar! Kenangan tentang episode terindah itu ambyar sudah. Suara si sok tahu yang masih saja ongkang-ongkang kaki di pojok sana menghancurkan semuanya. Menyebalkan! Sepertinya dia paham betul apa yang bisa membuatku meradang.

“Kau sirik!”

Dia terkekeh seraya menunjuk-nunjuk ke arahku. Gestur tubuh dan sorot matanya benar-benar terasa meledek. “Buat apa aku sirik pada penyair picisan yang sedang cemburu,” katanya.

Aku tidak cemburu!”

“Kau cemburu!”

“Tidak!”

Kau cemburu! Lebih tepatnya kau tidak bisa menerima kalau ada orang lain yang lebih mampu menulis puisi berkali-kali lipat lebih baik darimu. Apakah puisimu pantas disebut puisi? Aku tak yakin!”

Suaranya tegas dan mantap, membuatku tersudut layaknya pesakitan di kursi terdakwa. Sebagian hatiku setuju dengan celaannya, yang sebagian lagi mati-matian sedang mencari alibi. Ada pertempuran terjadi dalam diriku, aku melawan aku. Sisi waras melawan sisi naif.

“Ayolah, akui saja.”

Kali ini suara si sok tahu–sebenarnya sudah tak bisa dibilang sok tahu–melunak, bahkan seperti bernada membujuk.

Aku menjawab pelan, “Mungkin.”

Terbersit pengakuan dalam hati, hanya saja masih aku terlampau congkak untuk mengakuinya. Dia bangkit dari kursi, melangkah ke arahku dan bertepuk tangan pelan. Bibirnya komat-kamit, dia berpuisi, lebih tepatnya meledekku lagi.

Sang rajawali tertembak jatuh. Dadanya berlubang diterjang peluru jahanam. Mengerang dia di tanah berdebu. Kuhampiri lalu kubisiki, kau bukan rajawali, cuma emprit yang bermimpi di siang hari.”

Wajahnya datar tiada ekspresi, namun sorot matanya penuh luka. Ada kekalahan, ada kesedihan, juga keputusasaan di tatapannya, bahkan desah napas pun seolah bertutur, “Sayap si emprit ini patah sebelah.”

“Kau bersedih untukku atau sekadar bersimpati? Atau kau sedang berempati?” Kucecar dia tanpa jeda barang sedetik.
Langkah dia hentikan tepat di depan hidungku. Ditepuknya bahuku beberapa kali. Kami saling pandang, dia mencoba tersenyum namun gagal, aku pun sama.

“Aku bersedih untukmu, untukku, untuk kita, Jun.” Demikian kalimat terakhirnya sebelum menjelma serupa asap lantas lesap ke dadaku.

–tamat–

Tentang Sri

Membelah rinai hujan sembari menunggang motor memang mengasyikkan. Siapa yang tak suka hujan? Beribu alasan bisa kuutarakan pada siapa pun yang bertanya tentang perkara itu.

Satu hal yang kusukai dari hujan karena deraiannya mampu samarkan air mata. Maka, saat hendak luruhkan pedih terbiasa aku menangis dalam dekapannya. Niscaya seluruh perih akan perlahan luntur terkikis habis.
Pelukan tangisan langit sore ini terasa hangat dan nyaman. Melaju aku di atas RX King sembari dendangkan kidung asmarandana. Namun aktivitasku terhenti saat sesosok pemuda tanggung tertangkap mata termangu di jembatan tua. Usianya di ujung belasan.
Motor kuparkir sekitar 15 langkah dari anak itu berdiri. Perlahan kudekati dia, ah …, bocah itu pasti sedang dihantam pahitnya hidup. Bisikan simpati memaksa tuk sekadar menghiburnya.
“Yu,” sapaku.

Ya, pemuda itu bernama Wahyu. Dapat kukenali dari tahi lalat di pipi kanannya. Sepeda jengki biru miliknya bersandar pada batang pohon awar-awar. Selarik kalimat tertulis pada penutup rantai; cuma cah ndeso. Tersenyum kecil aku membaca itu.
Wahyu bergeming. Kuteliti wajah tampannya saksama. Ada kesedihan membayang di sepasang manik cokelat itu. Butir-butir air yang luruh di pipinya kuyakin tak cuma air hujan. Pasti bercampur air mata. “Dasar cengeng.”
Tatapan matanya kosong, seakan hendak menyibak kulit air sungai yang perlahan keruh. Debitnya kian deras seiring hujan yang tak kunjung reda. Beberapa batang pohon kenari muda nampak asyik menikmati aliran ke hilir itu.

Coba saja tadi bawa joran, bisa sekalian mancing morea.”
Biasanya morea akan lebih ganas mencari mangsa bila air keruh begini. Binatang itupun penyuka hujan. Cuaca seperti ini adalah saat tepat bila ingin mengail mereka. Hujan makin deras, tubuhku mulai menggigil. Bahkan deretan gigi pun menggeletuk kencang.
Tiba-tiba Wahyu berteriak lantang. Suaranya seakan menelusup jauh hingga ke rimbun hutan sepanjang sungai. Sepertinya dia ingin lepaskan segenap beban yang menghimpit dada. Aku cuma bisa tersenyum melihat itu.

“Teriaklah sekencang kau mampu, Yu. Biar lega hatimu.” Pernah berada di posisi serupa membuatku mafhum.
Dia menoleh tanpa tersenyum sedikitpun. Sekilas sinar matanya nampak suram, bahkan lebih redup dari bintang yang menuju kematian. Dirogohnya saku celana, secarik kertas biru muda kini digenggamnya.
Aku yakin itu surat dari seorang gadis. Ia menatap sendu kertas kuyup itu. Sepintas mataku menangkap tulisan di sana mulai luntur diterjang derai hujan. Semoga saja semangat bocah tampan di sampingku tak ikut terkikis.
Jejak tinta memudar, menjelma bak panu di kulit mulus. Ah …, aku jadi agak kesal pada hujan. Hanya sedikit, lebih seperti kilasan petir kala langit cerah. Namun di pojok kanan bawah nampak sebaris nama perempuan, Sri Pramesthi
Sri, nama itu tak asing. Milik seorang gadis berkulit hitam manis dari desa sebelah. Berparas khas Jawa serta berambut ikal mayang, legam selayak arang kayu besi. Aku bahkan hapal betul di mana kediaman serta mengenal orang tuanya.
Tanpa terlihat ragu Wahyu mencampakkan secarik surat di tangannya. Kertas tersebut terjun bebas seiring butiran air jatuh dari langit. Luruhnya kuikuti dengan tatapan sampai mendarat lugas lalu terbawa aliran sungai.
Entah berapa detik kuhabiskan tuk nikmati momen itu, sampai-sampai kepergian Wahyu tak tersadari. Sepedanya tak lagi bersandar pada pohon awar-awar berbuah lebat di sana. Ada jejak ban tercetak pada jalanan tak beraspal, mirip sungai mini.
Hujan masih jumawa, tubuhku kian gigil namun enggan rasanya beranjak. Jembatan ini pernah jadi semacam prasasti bagiku. Ada cerita tertulis di sini, tentang kehilangan juga tangisan hening.
Ketika tengah kunikmati lintasan memori dalam guyuran tangis langit, dari kejauhan bocah itu terlihat. Dia mengayuh sepeda penuh semangat. Tak nampak lagi wajah muram yang tadi. Dasar bocah, cepat sekali berganti suasana hati.
Tanjakan kecil dia libas sempurna. Sesosok gadis berseragam SMA duduk manis di boncengan. Ketika mereka melewatiku yang bersandar pada pagar jembatan Wahyu kerlingkan mata. Wajah tampannya terlihat bercahaya meski tertimpa derasnya hujan.
Aku melongo menyaksikan peristiwa itu. Tak habis pikir dengan bocah bernama Wahyu itu, betapa mudah dia menukar duka dengan ria. Apa itu memang sudah tabiat remaja seusianya? Dulu aku tak begitu. Butuh berlusin-lusin hari tuk bangkit dari jatuh. Perlu bergelas-gelas sageru guna hilangkan gundah. Juga berbatang-batang lintingan kretek terbakar percuma, hingga paru-paru kian sesak oleh jejak nikotin.
Di ujung jembatan. Saat mereka hampir sejajar dengan RX Kingku, gadis di boncengan itu menoleh. Wajah ayunya berhias selengkungan senyum, menatap padaku sedikit mesra. Sungguh indah dan memesona.
Entah setan apa yang mendorongku, segera kuhampiri motor lalu kustarter. Raungannya membelah udara basah, kepulan asap putih tipis beraroma oli terbakar melesat. Sedetik kemudian aku melaju, membuntuti dua sejoli itu. Sekitar 25 meter jarak antara kami.
Laju kereta angin berbebankan sepasang remaja itu cukup kencang. Tampaknya Wahyu benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya. Tangan si gadis melingkar mesra di perut Wahyu, sungguh romantis. Berboncengan membelah hujan, berdua, tanpa interupsi dari siapa dan apapun. Sepertinya alam juga tersenyum melihat adegan itu.
Aku membuntuti mereka dengan kecepatan konstan, jarak rasanya tak berubah. Kini kami melaju di tengah pemukiman transmigrasi yang cukup lengang. Jalanan berbatu membuat tubuhku sedikit berguncang. Deras tangisan langit sepertinya membuat para penduduk malas keluar rumah. Mungkin mereka tengah memadu kasih atau bercengkrama bersama anak-anaknya.
Sekitar satu kilometer tanpa gangguan berarti perjalanan kami tempuh. Hujan mulai reda, selarik bianglala nampak di ufuk timur. Di sebuah perempatan Wahyu hentikan kayuhannya. Aku pun berhenti tanpa mematikan mesin. Gadis berambut ikal mayang turun dari boncengan, setelahnya Wahyu melompat lugas dari sadel.
Sejoli itu nampak berbincang mesra, sesekali Wahyu kulihat mengelus pipi kekasihnya. Sekitar tiga menit mereka bersenda gurau, lalu sebuah kejadian dahsyat terjadi. Wahyu mengecup mesra kening gadis itu. “Wow! Keren brother,” pekikku dalam hati. Aku bertempik sorak untuknya.
Setelahnya si rambut ikal mayang melanjutkan perjalanan pulangnya. Sebelum dia kayuh kereta anginnya sempat gadis itu menoleh sembari lemparkan seulas senyuman manis. Jantungku berdetak kian cepat, aliran darah pun terasa makin deras mengalir.
Kubalas lambaian tangannya sembari jinakkan degupan di dada. Tak lupa senyuman termegah kusunggingkan. Anehnya Wahyu tak acuhkan kelakuanku.
Kutatap punggung Sri sampai dia ditelan tikungan di depan sana. Kuputar handle gas perlahan, melaju ke arah Wahyu. Ingin memberinya tumpangan pada si bocah tengil itu, kebetulan kami sedesa.
Namun perlahan-lahan tubuhnya memudar lalu seakan moksa.
Ketika tengah kebingungan, selantun suara yang tak asing meneriaki, “Wahyu … woy, mampir kene. Ngopi sik ( mampir sini. Ngopi dulu).”
Kulihat Mas Darto tersenyum dan lambaikan tangan dari ambang pintu rumahnya. Kumatikan mesin, standarkan motor lalu bergegas menuju serambi itu. Seketika raga ini terasa kian dingin dan gigil. Sempat tadi sedikit menghangat karena senyuman Sri.
Kubayangkan segelas kopi tubruk dan sepiring pisang goreng akan menyapa di sana. Biarlah kularutkan kenangan tentang Sri lewat tegukan yang menghangatkan tenggorokan. Meski dia akan tetap tinggal di salah satu sudut hati.
Mungkin saja dia tengah bercumbu mesra. Bergelut dalam desah penuh birahi dengan Tegar. Lelaki beruntung pemilik hati dan raganya saat ini. Toh setidaknya aku pernah jadi raja di istana cintanya. Tak mengapa kalah, asal tak sampai patah.
Aku selalu menyukai dan menanti hujan, karena lewat hadirnya dapat memantik lagi sejuta kenangan.
– Tamat –

nb: cerpen ini telah diterbitkan dalam sebuah antologi bertajuk Sebasah Hujan.

Rindu Nan Amerta

Mendekatlah padaku
Rebahlah dalam haribaan lelaki usang ini
‘Kan ku hikayatkan tentang sesuatu nan amerta
Lestari oleh desir-desir

Ikutlah denganku Drupadi …
Melayang tembus ke asmaraloka
Menuai serpih-serpih imaji
Yang berjatuhan dari purnama jingga

Oh Rindu ….

Tahukah kau duhai kekasih?
Lelaki ini belumlah paripurna
Namun rinduku tak berselisih
Tiada lekang digerus masa

Rinduku … oh Drupadiku

Marilah kekasih megahku …
Berpautan jemari, kita daki puncak rindu
Titik paripurna nan membiru haru
Dalam doa … tanpa warta … tiada ragu

Aku nirguna tanpa hadirmu
Aku rapuh tanpa rindumu
Aku ringkih tanpa kasihmu
Aku retak tanpa belaimu

Oh cintaku …

Pemilik semesta birunya rinduMelekaplah padaku wahai Drupadi
Peluklah aku dengan senyummu

Mari berbincang tentang rindu …

Nan amerta dalam asmaraloka.

Dilema

Saat surga telah dia punya
Lalu harus apa kutawarkan padanya?
Cuma bilik reot ini yang tersisa

Ketika bertahta dia dalam istana
Bak Prameswari raja semesta
Lalu … patutkah budak ini mendamba?

Jika sang pagi selalu menuntunnya
Sang rembulan pun sudah memberi teduh
Cukup pantaskah puisi kutuliskan buatnya?

Ah … tapi bukankah rasa tak pernah dusta?

Kabar Pada Drupadi

Rembulan tak berkawan
Aku pun begitu
Dalam kungkung rindu nan membiru

Ada desir terasa
Di sini … di dada ini

Kuhadang semilir tatih sang bayu
Kuajak berbincang tentang rindu
Ya … rinduku padamu
Kau tahu? dia mengejekku.

Ahhhh … bila saja kau tahu
Bila saja kau mau
Namun, aku bukanlah pemilik sejatimu.

Drupadi

Bila …
Bila cintamu begitu megah
Bolehkah ku kecap meski sekerat?

Bila …
Embus napas wangimu boleh kupinjam
‘Kan kusulam tuk cadari rindu.

Rindu bisu
Sebisu arca-arca di kuil asmara
Selayak bayu, selalu riuh berderu

Oh … Drupadi

Engkaulah lambang wanita paripurna
Bersanggul purnama jingga
Selayak Hapsari nan mempesona

Bila …
Bila kasihmu seluas samudera
Rela karam aku hingga dasarnya

Oh … Drupadi

Dikaulah mawar di taman nirwana
Wangimu melibas aroma kenanga
Menelusup jauh ke relung-relung jiwa

Bila …
Bila bias netramu seindah senja
Biar saja kutersesat selamanya.

Sebuah Episode Khayal (Gadis Imajinasi)

—Sebaris Nama—

Semua terawali imaji, abjad-abjad rangkai sebuah nama, terasa asing, dan hambar yang terkecap.

Imaji penuhi mimpi. Seolah sosok begitu ternilai. Meski hati, resah dan khayal tersua paras bergambar angkuh.

Seakan takdir menggaris hati. Ataukah mimpi menemui pasti?Aahhh … nama itu kudapati.

Bersisi beda sewajar insan. S’makin menggenal tercumbu resah. Tak’kala kehabisan waktu, sedetik, bersama sebaris nama.

—Gila?—

Sekilas sua. Sebias tatap. Terdamba nama. Ingin meraja, sekedar sentuhi rasa.

Berulang menatap, tertatap. Tercumbu hal gila, ataukah sewajarnya? Terdalam hati belum terselami. Seraut maya membebani.

Kegilaan ini ejawantahkan rasa.Resah menggila bercadar puja. Gila ataukah cinta? Terdalam nurani tak pernah mengerti.

—Untuk Sebuah Nama—

Bilamana hampa merasuki. Pangeran sepi bertahta. Cinta menghamba pada hasrat. Memohon asa, pun meski sekerat.

Lambai tirai tercumbu desau. Mengusik sisi angkuh rasa. Koridor panjang hiasi hati. Berujung celah redup emosi.

Sebatang suluh redup, hilang arti pada sebentuk cinta. Mencoba sanjungkan pinta. Perkenankan terangi kelam.

Sepotong setia berharap, berilah penggalan waktu. Mencari indah dalam anggkuh. Warnai bianglala dalam hitam.

—Sepotong Aku mu—

Bumi tetaplah bundar. Masih setia berputar. Dan sang sunggai? … ya … masih menggalir. Walau tak sederas dulu.

Mencari … masih. Tempat bertaut, endapkan serpih lumpur, membentuk delta.

Antara naif dan kejujuran. Perasaan ataukah ketakwarasan? Pelarian ataukah persinggahan? Mungkinkah penghujung perjalanan?

Untukmu perempuan, terluruhkan kerajaan bimbang. Terakui secercah khayal.

Tentang … Semua yang terawali imaji, dan abjad-abjad yang pernah termimpi. Nukilan nisan, sepotong aku mu.

—Pengakuan Pecinta—

Masih kubelai langkah. Tertatih pun berulang tersuruk. Dan sepertinya “aku gemetar.”

Perih … Sayat luka tersiram peluh meluruh. Pun darah tak lagi menetes. Masih sembab paras. Saat isak, tak lagi terlantun.

Aku merasa “pecinta termalang.”

Namun ternyata patut aku bersyukur. Aku bukanlah satu-satunya. Dan tak sendiri meski kesepian.

Di sana … di simpang jalan, sebentuk jasad tergolek. Penuh luka, lebam terbantai cinta.

Tapi, sekali lagi “aku kalah.”

—Satu Jawab—

Bukan seperti ini. Tidak sepagi ini.

Kataku belum terucap. Lidah belum lagi menari. Pinta pun belum kusanjungkan.

Aku yakin aku tak buta. Mungkin hanya bodoh. Tuli? ah … bukan. Meski lirih senandung itu ku dengar.

Terlalu pagi sahabat. Terlalu dini, dan terlampau cepat.

Dan kuharap itu salah. Karena, “aku benci kalah! Walau itu harus.

ditulis ulang 21-05-2018.